Assalamualaikum Wr. Wb.
Sudah lama sekali nggak ngisi tulisan-tulisan di blog yang dulu dibikin cuman untuk memenuhi tugas SMA (MAN lebih tepatnya). Banyak kejadian yang udah dialami selama hampir 4 tahun membiarkan blog ini dipenuhi sarang laba-laba. Pada kesempatan kali ini, banyak pengalaman yang manis dan pahit yang ingin saya bagikan sekaligus blog ini jadi kesempatan curhat colongan yak, iya curhatnya nyolong-nyolong waktu kerja hahaha.
Selepas dari ikatan lahir dan batin selama 2 tahun (ya, saya anak kelas akselerasi, pinter ya, meskipun ranking gak pernah keluar dari angka 21 tapi bisa berbangga diri yak), akhirnya saya keluar juga dari sekolah tercinta saya dengan membawa sertifikat kelulusan tentunya, karena kami berpisah dengan baik-baik. Saya memberi dia "kenangan" indah, dia memberi saya ijazah yang berguna untuk saya melanjutkan mimpi-mimpi di masa depan.
Ya, memang terlalu indah untuk dilupakan masa-masa SMA saya, meskipun nggak senakal dan seromantis kisah SMA-nya Bapak Dilan dan Ibu Milea, tapi kisah SMA saya tetap sangat menyenangkan kok.
![]() |
| "Thanks for those memories." |
Setelah lepas dari masa indah khas anak muda itu, alhamdulillah, pada waktu itu saya rasa saya bisa cukup membahagiakan kedua orang tua saya setelah berulang kali membuat asam urat beliau-beliau sering naik gara-gara saya terlalu bandel waktu SMA dengan diterima di salah satu perguruan tinggi kedinasan yang tidak memungut biaya selama perkuliahannya dan mendapatkan jaminan mendapatkan pekerjaan sebagai pegawai di salah satu kementerian asalkan mereka dapat bertahan. Bertahan? Ya. Karena kampus ini kental dengan tradisi pemuntahan massal anak didiknya yang gagal memenuhi syarat kelulusan setiap semesternya tanpa adanya kesempatan lainnya (baca: STAN: Sekolah Tinggi Akuntansi Negara).
Karena saya diterima di program diploma III maka saya harus menempuh pendidikan di kampusnya (lokasinya di Bintaro, Tangerang Selatan. Berjarak kurang lebih 5 km dari Jakarta Selatan). Jika saya diterima di diploma I, saya bisa kuliah selama setahun di Balai Diklat yang kebetulan ada yang letaknya dekat dengan kampung halaman saya. Akhirnya, mau tidak mau, suka tidak suka saya harus bertolak ke Jakarta. Ibukota yang hanya bisa saya lihat kemegaha sekaligus kesemrawutannya dulu di TV.
![]() |
| "Foto pertama kali di jakarta. Stasiun Pasar Senen." |
Berada di Jakarta pertama kali dengan bapak saya (selanjutnya saya sebut abi) yang notabene masih belum mengerti sama sekali dengan keadaaan disana, membuat kami benar-benar terlihat seperti orang kampung yang masih sangat lugu. Syukurlah, Sang Pelindung benar-benar menunjukkan taji-Nya dalam menjaga hamba-Nya yang rajin beribadah (abi) sehingga kami terhindar dari kriminalitas yang erat berhubungan dengan Ibukota.
Sesampainya di Bintaro, kami langsung menuju ke kost saya yang sudah dibayar sebelumnya. Untungnya mahasiswa yang berasal dari daerah yang sama membentuk suatu aliansi yang berguna untuk membimbing mahasiswa baru untuk memenuhi banyak kebutuhan mereka, terutama kebutuhan primer mereka disana, Kost. Kenapa primer? Karena hanya itu yang bisa menyelamatkan kami dari berbagai macam hal buruk, dan juga karena sayangnya kampus ini tidak lagi menyediakan asrama untuk mahasiswanya.
Euforia khas mahasiswa baru yang tidak perlu diceritakan juga terjadi di kampus ini. tidak ada yang mengesankan selain soal keberanian mereka memaksa saya (dan mahasiswa lainnya) menggunduli rambut, dimana bahkan abi tak pernah menyarankan saya untuk bercukur seperti itu.
Setelah selesai segala macam euforia itu, perkuliahan dimulai. Secara mengejutkan sistemnya sama persis seperti di jaman SMA dulu, bedanya penilaian kapabilitas akademik kami ditampilkan dalam bentuk IP dan IPK di tiap akhir semester. Anggota kelas yang dirolling setiap tahunnya juga memberikan perbedaan dengan SMA, selain ijazahnya juga tentunya.
Saya tetap menjadi saya di waktu SMA ketika sudah memasuki dunia perkuliahan, tetap pada kepribadian yang bandel, suka nongkrong sampai larut malam apalagi jauh dari pengawasan ortu. Selama 2 tahun perkuliahan saya hanya bisa meraih hasil yang mepet diatas indeks standar yang ditetapkan. Dan akhirnya, hal yang paling ditakutkan terjadi.
5 September 2016, ba'da maghrib, pengumuman kelulusan semester 4 keluar, dan nama saya tertera dengan IPK 2,70 (IPK minimal lulus 2,75), yang artinya saya gagal untuk bertahan di STAN. Pada saat itu, saya baru tau rasa sedih, kecewa dan menyesal yang sebenarnya. Orangtua, teman-teman sekelas dan seangkatan menyemangati, bilang ini semua bukan akhir dari segalanya. Namun bukan itu yang saya takutkan, saya takut menyusahkan orangtua dengan ambil kuliah lagi, sedangkan adik saya juga sudah masuk kuliah tahun itu.
Pada akhirnya, Tuhan memang Pendengar yang sangat baik, Pemberi keputusan yang sangat baik juga. Meskipun saya akhirnya mendapatkan predikat sebagai DO (Drop Out), lewat situ saya benar-benar ditunjukkan (secara lebih cepat) jalan dimana jalan itu adalah jalan yang memang sudah saya mimpikan, yaitu punya penghasilan dan tidak merepotkan orangtua saya. Terima kasih atas pelajaran hidup yang sudah diberikan selama 2 tahun kuliah di STAN. Tanpa STAN, saya nggak akan pernah tahu bahwa Jakarta itu indah apabila kita bisa menikmatinya. Tanpa STAN, saya nggak akan pernah sadar bahwa hasil memang tidak akan pernah mengkhianati usaha. Dan Tanpa STAN juga saya nggak akan pernah bisa dapat pekerjaan semudah ini (saya bekerja di perusahaan salah satu alumnus STAN). Terima kasih atas segala pengalamannya yang sangat mahal.
5 September 2016, ba'da maghrib, pengumuman kelulusan semester 4 keluar, dan nama saya tertera dengan IPK 2,70 (IPK minimal lulus 2,75), yang artinya saya gagal untuk bertahan di STAN. Pada saat itu, saya baru tau rasa sedih, kecewa dan menyesal yang sebenarnya. Orangtua, teman-teman sekelas dan seangkatan menyemangati, bilang ini semua bukan akhir dari segalanya. Namun bukan itu yang saya takutkan, saya takut menyusahkan orangtua dengan ambil kuliah lagi, sedangkan adik saya juga sudah masuk kuliah tahun itu.
Pada akhirnya, Tuhan memang Pendengar yang sangat baik, Pemberi keputusan yang sangat baik juga. Meskipun saya akhirnya mendapatkan predikat sebagai DO (Drop Out), lewat situ saya benar-benar ditunjukkan (secara lebih cepat) jalan dimana jalan itu adalah jalan yang memang sudah saya mimpikan, yaitu punya penghasilan dan tidak merepotkan orangtua saya. Terima kasih atas pelajaran hidup yang sudah diberikan selama 2 tahun kuliah di STAN. Tanpa STAN, saya nggak akan pernah tahu bahwa Jakarta itu indah apabila kita bisa menikmatinya. Tanpa STAN, saya nggak akan pernah sadar bahwa hasil memang tidak akan pernah mengkhianati usaha. Dan Tanpa STAN juga saya nggak akan pernah bisa dapat pekerjaan semudah ini (saya bekerja di perusahaan salah satu alumnus STAN). Terima kasih atas segala pengalamannya yang sangat mahal.
![]() |
| "Foto perkuliahan terakhir bersama Dosen Sistem Informasi Akuntansi." |



No comments:
Post a Comment